Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini
Gambar
LABEL KEIKHLASAN Sudah mulai banyak yang bilang berarti guru udah bukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dong? ya soalnya tuh ada sertifikasi. Looh loh, Bukan lagi kerja ikhlas dong dan nyinyiran lainnya. Entah mengapa selalu tersudutkan. Padahal manusia pada umumnya butuh sesuatu yang sama untuk hidup. Iya butuh pangan, sandang dan papan. Bagiku guru adalah sosok hebat. Bagaimana tidak? mengurusi makhluk hidup yang bermilyar karakter bahkan lebih. Belum selesai urusan rumah sudah harus bergegas mendidik anak bangsa. Pulangpun masih harus menyelesaikan tugas adminitrasi dan rumah tangganya, belum lagi ada sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarga hingga p ulang larut. Ada yang salah satu titik saja dihakimi tanp a ampun. Bahkan berujung bui tanpa memikirkan ada tanggungan yang ditanggungjawabkan pada pundaknya. Giliran kami guru menuntut kesejahteraan semua membungkam. Tak jauh beda dengan yang tuli dan buta mata nya. Iya mata hatinya. Hingga jeritan batinnya tak terdengar. S...

Ketulusan Murni dari Hati

Merawat makhluk hidup adalah suatu ketulusan yang murni. Merawat anak tentunya karena amanah dan bukan keterpaksaan. Pun merawat makhluk hidup yang lain misal tumbuhan dan hewan . Belum tentu semua orang punya rasa yang sama akan kebaikan murni  untuk merawat. Bahkan sebagian menganggap spele . Padahal hewan kecil itu semisal kucing hanya mengharap makanan sisa. Tapi justru mendapat sentilan, tendangan atau disiram air. Padahal Rasulullah sayang bgt sama kucing loh . Lalu soal rasa ini adalah apa? Bahkan sesama manusia kita dianjurkan baik. Sehingga ada riwayat "Seseorang dikatakan belum beriman sebelum ia mencintai oranglain seperti ia mencintai dirinya sendiri. -Muttafaq'ilaih . Sering dari kita menertawakan kesengsaraan dan ketakberdayaan saudaranya. Jangankan membantu, mendo'akannya saja tidak. Bukankah saking mencintai diri sendiri. Kita tak ingin diri kita terluka. Pun itu perlakuan terhadap oranglain . Bisa jadi yang saat ini mempunyai ketulusan murni ha...

Mari Kita Berkeliling

Bukan seorang pengamat yang baik. Tetapi kalau dipikirkan sebenarnya lagi belajar tentang mengamati. Mengamati apa? Ya lingkungan sekitar dan apa yang terjadi. Jika mengamati tentang seseorang, bukan itu. Tapi lebih melihat bagaimana makna dari setiap kisah yang aku amati. Berjalanlah kamu dimuka bumi, bumi Allah begitu luas. Maka kau akan dapat mengambil pelajaran. Pada kesempatan kali ini mencoba tarawih ditempat yang berbeda. Seperti biasa saya menyaksikan anak kecil yang selalu dimarahi ibu-ibu karena berisik. Belum lagi sampai dikejar-kejar. Lucu? Ya memang begitu keadannya. Saya tidak tertawa tapi sedih. Bukankah jiwanya anak-anak memang main? Mereka seharusnya diajari. Atau memang mengapa kalau berisik. Kita saja yg sudah dewasa belajar lebh khusyu. Lama-lama pun pasti anak-anak akan mengerti tentu dengan pengertian yg sudah diberikan. Atau jangan marah pak bu kalo anak-anak berisik. Cukup pelan saja, saat sholat jgn berisik yaa. Tapi hanya jadi pengamat saja. Sesekali ...

Membaca Menelisik Makna

Sesekali membacalah dengan serius hingga merenung dan bermuhasabah atas diri ini. Hingga sadar betapa kehidupan ini begitu dalam dimaknai. Memaknai kehidupan bukan hanya soal diri tapi juga oranglain. Bukankah yang penting lebih bermanfaat untuk sesama? Membaca kehidupan dari berbagai sisi. Jika lelah tengoklah mereka yang giat bekerja padahal sudah tak sepantasnya bekerja. Merasa beban terlalu berat lihatlah mereka yang menanggung beban lebih dari beban dirinya. Membaca makna kehidupan bukan hanya saat lelah.? Tapi saat apapun dimanapun. Saat menyaksikan dengan susahnya berbicara bahkan arah pembicaraan yg tak menentu. Cobalah membaca makna, sudahkah dirimu mengalami beban seberat itu. Saat menyaksikan orangtua renta dan masih bekerja keras.apakah kau hanya simpati dan tidak membaca makna hidup itu? Membaca makna dalam kehidupan tidak menunjukan apakah kau peduli atau acuh tapi membaca makna kehidupan adalab menyadari bahwa hidup sangat dalam untuk dimaknai.

Aksi Kebaikan

Bulan ramadhan memang bulan yang sangat ditunggu, sangat langka dan sangat istimewa. Rasa untuk berbagipun sangat tinggi. Maka manfaatkanlah momentum kebaikan ini.  Entah dibilang apapun tapi kembalikan pada niat pribadi. Kami melakukan ini bukan dari organisasi manapun. Jadi blusukan ini bukan semata-mata pencitraan. Hanya saja kami sadar bahwa momentum kebaikan harus dibiasakan. Beberapa bertanya, ini apa? Dari mana? Dari kami yang ingin berbagi. Kami bukan dari partai atau organisasi manapun pak/bu. Waah terimakasih dek, terimakasih. Sempat juga menyaksikan kakek tua yang ingin membeli makan tapi sudah habis, alhamdulillah kebetulan. Itulah kesempatan yg sangat tepat. Kami langsung berbagi dan ada rasa haru bahagia yang begitu luar biasa. Kami siapa? Kami hanya pemuda/i yang sedang reunian dan mengadakan buka bersama. Iya kita pernah sekelas sewaktu bersekolah di SMAN 1 Babelan. Kami tentu rindu dengan kenangan semasa sekolah dulu. Alhamdulillah pertemuan kami sekal...